Lonjakan drastis harga batubara, minyak bumi dan CPO setahun terakhir rupanya telah membawa berkah bagi ekonomi Indonesia. Setidaknya dalam mendongkrak kinerja ekspor. Tengok saja, nilai ekspor kita tumbuh hingga 30% pada semester pertama 2008. Padahal ekspor tanpa migas hanya tumbuh 23%. Ekspor tanpa CPO dan migas tumbuh 12%. Ekspor tanpa migas, CPO dan bahan bakar mineral hanya tumbuh 10%.
05 August 2008
27 February 2008
Stop Muji Ekspor !
Barangkali kini saatnya bagi pemerintah untuk berhenti memuji ekspor. Faktanya selama 3 tahun terakhir, pertumbuhan ekspor semakin mengkhawatirkan karena terus mengalami penurunan. Tahun 2008, ekspor malah akan menghadapi tantangan lebih berat lagi karena ekonomi dunia yang diperkirakan melemah.
Stop muji ekspor! Lebih baik pikirkan solusi agar ekspor tidak semakin melambat.
Posted by
pny
3
comments
Labels: Ekspor
01 February 2007
US$ 100 miliar akhirnya tembus juga
Ekspor 2006 akhirnya benar-benar menembus 100 miliar dolar. Meski pertumbuhannya sedikit lebih rendah dari tahun 2005.
Akankah ekspor tahun ini sebaik tahun 2006? Perkembangan harga komoditi nampaknya masih akan banyak menentukannya.
Posted by
pny
0
comments
Labels: Ekspor
15 December 2006
Ekspor berjaya, siapa bintangnya
Di antara produk dengan nilai ekspor lebih dari US$ 100 juta per bulan, ekspor Karet ternyata tumbuh paling tinggi, yang kemudian disusul Besi Baja dan Batubara.
Dari 10 komoditas yang menjadi bintang ekspor, hanya satu yang merupakan produk manufaktur yaitu Kendaraan Bermotor untuk jalan raya. Selebihnya merupakan komoditi primer, yang lebih banyak meningkat karena membaiknya harga komoditi tersebut di pasar internasional.
Ekspor produk manufaktur seperti pakaian, kain tekstil, perabotan, mesin listik, dll tumbuh di bawah rata-rata.
Ini harus menjadi catatan, karena Indonesia tentu tidak bisa terus mengandalkan komoditi primer untuk membuat ekspor berjaya. Tidak selamanya harga komoditi membaik. Tidak selamanya pula komoditi primer bisa menjadi bintang.
Posted by
pny
0
comments
Labels: Ekspor
17 February 2005
Belajar Ekspor dari Negeri Cina
*| Phone Nuryadin
MENGAGUMKAN! Itulah kata yang pantas diucapkan untuk mengomentari pengumuman angka pertumbuhan ekonomi China bulan lalu. Meski pemerintah China telah berupaya keras mengerem pertumbuhan ekonominya, tetap saja geliat ekonomi mereka belum mampu dikendalikan. Masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya, ekonomi China tahun 2004 diumumkan masih tumbuh tinggi 9,5 persen, jauh melebihi prediksi ekonom pada umumnya.
Dua puluh tahun lalu, China bukanlah apa-apa. Pendapatan per kapita-nya tidak lebih dari rata-rata dunia.
Tapi kini, China telah menjadi salah satu raksasa Asia yang menjadi pesaing utama Jepang. Kesejahteraan rakyatnya pun mengalami peningkatan yang luar biasa. Negara-negara besar seperti Jepang, Amerika dan beberapa negara Eropa bahkan sangat khawatir dengan fenomena tingginya pertumbuhan China. Bagaimana tidak, China saat ini telah menjadi salah satu pengendali perdagangan dunia ketiga terbesar. Produk-produk China mengalami ekspansi yang sangat cepat dan sedikit demi sedikit menekan pangsa pasar produk Amerika dan Jepang.
Tingginya pertumbuhan ekonomi China, yang dimotori ekspor, tentu bukanlah merupakan hasil kerja yang cepat dan mudah. Jauh sebelum semua itu dicapai, pemerintah China telah melakukan upaya keras untuk menyusun strategi dan kebijakan, dengan memanfaatkan keunggulan komparatif yang mereka miliki.
Upaya tersebut dimulai pada tahun 1979, dimana pemerintah China menentukan Special Economic Zones (SEZ’s) atau daerah khusus yang untuk mengembangkan industri yang berbasis ekspor. Di wilayah SEZ’s, pemerintah China memberikan kelonggaran regulasi dan stimulus pajak yang lebih ringan dibanding daerah lainnya.
Peraturan dan prosedur di bidang ekspor dan investasi juga disiapkan sejak dini untuk memudahkan aliran modal dan barang dari dan menuju SEZ’s. Selain itu, China juga memanfaatkan keunggulan komparatif mereka berupa murahnya biaya tenaga kerja (labor cost), dengan berupaya lebih fokus pada pengembangan industri yang labor intensive seperti tekstil dan produk pertanian.
Strategi lain yang juga paling krusial dalam pengembangan ekspor China adalah membina hubungan baik dengan Hongkong. Hubungan dengan Hongkong tidak hanya mampu meningkatkan aliran modal ke China, tetapi juga memudahkan China mengadopsi teknologi baru, mengaplikasikan manajemen yang lebih modern serta menjadi pintu utama China untuk mengkases pasar dunia.
Aliran Investasi pun akhirnya meningkat tajam.
Lalu kebijakan ekspor Indonesia?
Posted by
pny
0
comments
Labels: Ekspor