Showing posts with label Investasi. Show all posts
Showing posts with label Investasi. Show all posts

16 April 2007

Ekonomi 2007: Investasi cerah?

Gambaran awalnya menunjukkan demikian. BKPM mencatat pada triwulan pertama tahun ini, PMA naik 15% dan PMDN naik 61%. Memang masih kurang meyakinkan seperti kata Faisal Basri berikut:

...Berdasarkan daftar proyek berskala besar yang disetujui, ternyata hanya dua proyek PMA yang benar-benar baru, yaitu industri pengilangan minyak dan gas senilai 4,4 miliar dollar AS di kota Batam dan industri komponen bahan bangunan senilai 25 juta dollar AS di kabupaten Halmehera Utara. Proyek pertama tergolong sangat besar tapi sejauh ini tak terdengar gemanya dalam pemberitaan. Adapun PMA lainnya kebanyakan proyek alih status dan hampir seluruhnya perkebunan kelapa sawit...


Gambaran yang lebih meyakinkan adalah data yang dikeluarkan Asosiasi Semen Indonesia. Konsumsi semen nasional pada kuartal pertama 2007 naik 8,8%, jauh lebih tinggi dari pertumbuhan tahun 2006 yang hanya mencapai 1,6%.

Data konsumsi semen malah lebih menggambarkan pergerakan investasi, karena porsi terbesar (70%) investasi bruto dalam GDP adalah investasi bangunan, bukan investasi bisnis seperti yang dicatat BKPM. Jadi, cukup cerah!

26 January 2007

Sudahlah, investasi memang turun koq

Data BKPM bahwa investasi turun sebesar 32 persen pada tahun 2006 rupanya sulit diterima oleh Menko Perekonomian Boediono.

’Data BKPM hanya sebagian. Coba cek data BPS yang lebih luas. Ya belum tentu ada penurunan. Coba dicek dulu, apa itu benar-benar turun investasinya. Saya koq belum yakin. Saya kira ada turn around pada triwulan II 2006, karena angka makronya demikian’, kata Boediono.

Adalah benar data BKPM hanya sebagian, dan data BPS lah yang memang lebih luas seperti yang pernah dituliskan di sini.

Namun keyakinan Boediono bahwa investasi di BPS tidak turun, berbeda dengan kenyataan. Perkiraan terjadinya turn around pun salah total.

Faktanya, sampai kuartal ketiga 2006, investasi bisnis di neraca PDB justru turun 16,4 persen. Pada kuartal pertama 2006, investasi bisnis tumbuh negatif 13 persen, untuk kemudian terus anjlok pada Kuartal kedua dan ketiga yang berturut-turut tumbuh negatif 15 persen dan 21 persen (belum ada turn around)

Seyogyanya Boediono menindaklanjuti lebih detail data tersebut, ketimbang mengira-ngira saja berdasarkan data makro seperti inflasi, rupiah dan suku bunga. Boediono mungkin lupa, pergerakan investasi tidak serta merta sejalan dengan perubahan indikator makro, karena persoalan investasi lebih banyak mikro ketimbang makronya.

27 December 2006

Skenario mimpi pertumbuhan ekonomi

Bagaimana mencapai pertumbuhan ekonomi 6,5 persen pada tahun 2007?

Pusat Penelitian Ekonomi LIPI (Mahmud Thoha & Maxensius Tri Sambodo) punya skenarionya:

Untuk mencapai pertumbuhan sebesar itu, maka diperlukan rasio investasi terhadap PDB sekitar 30 persen. Jadi nilai PDB riil 2007 diperkirakan Rp 1.967 triliun, karena itu nilai investasi yang dibutuhkan sekitar Rp590 triliun. Padahal nilai realisasi PMDN dan PMA hingga Oktober 2006 baru mencapai Rp55 triliun

Jika dilihat dari angka-angka dalam urutan argumen Mahmud Thoha tersebut, jelas ini merupakan skenario mimpi. Katakanlah realisasi PMA dan PMDN secara keseluruhan di tahun 2006 sebesar Rp 65 triliun, maka untuk mencapai skenario pertumbuhan 2007, investasi haruslah tumbuh 808 persen. Sesuatu yang hampir mustahil terjadi dan bahkan mungkin tak layak diungkapkan.

Namun demikian, besar kemungkinan skenario mimpi ini muncul karena peneliti LIPI melupakan beberapa hal berikut:

Pertama, Investasi nominal di BKPM tidak bisa diperbandingkan dengan investasi riil di neraca PDB, harus apple to apple.

Kedua, investasi bruto yang dalam neraca PDB bukan semuanya investasi bisnis (seperti yang tercermin dari PMA dan PMDN), tetapi justru sebagian besar merupakan investasi bangunan. Fakta ini penting karena yang dibicarakan PPE-LIPI tampaknya adalah investasi bisnis.

Ketiga, investasi bisnis nominal yang tercatat di neraca PDB tidak semuanya tercatat oleh BKPM, sehingga angka investasi di BKPM jauh lebih rendah.

05 December 2006

Investasi Anjlok, Lapangan kerja bertambah

TAHUN INI, ekonomi boleh saja tumbuh lebih rendah. Kalangan industri juga boleh saja mengeluh dengan kenaikan segala macam biaya. Kalangan perbankan juga boleh kecewa karena pertumbuhan kredit yang sangat rendah. Tapi TAHUN INI merupakan tahun paling menggembirakan bagi para penganggur.

BPS kemarin mengumumkan bahwa sejak Nov 2005 sampai Agustus 2006, jumlah penganggur terbuka berkurang sekitar 1 juta orang. Atau secara presentase, angka pengangguran berkurang dari 11,24 persen menjadi 10,28 persen.

Ini tentu merupakan pencapaian yang fantastis, di tengah kritik tajam terhadap kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM dan di tengah pertumbuhan investasi yang sangat parah. Data BPS menunjukkan bahwa investasi bisnis sampai Januari-September 2006 justru anjlok 16 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Apa artinya? Tanpa investasi pun, pemerintah ternyata masih bisa menciptakan lapangan kerja yang sangat besar. Hebat sekali dan tentunya SELAMAT untuk satu juta pengaggur yang telah mulai bekerja.

25 July 2006

Iklim Investasi vs ORI

Jasso Winarto, Pengamat Pasar Modal dari Sigma Research Institute, menyatakan:

Penerbitan Obligasi Ritel Indonesia (ORI) oleh pemerintah bisa menggairahkan iklim investasi di dalam negeri yang kini lesu. Pemodal bisa memanfaatkan dana ke instrumen investasi dengan return bagus dan tanpa risiko.

Berbicara mengenai investasi portfolio, siapapun seharusnya tidak punya alasan untuk menyatakan iklim investasi portfolio sedang lesu, apalagi oleh seorang pengamat pasar modal. Investor di pasar finansial saat ini sedang berpesta pora meraup untung, memanfaatkan kebijakan suku bunga tinggi yang masih dianut Bank Indonesia. Angka investasi portfolio pun pada tahun 2006 meningkat tinggi, yang kemudian mendongkrak kinerja pasar modal dan pasar uang.

Kalau yang si pengamat maksud adalah iklim investasi riil seperti pembangunan pabrik, maka benar adanya bahwa investasi memang sedang lesu. Data mendukung pernyataan tersebut. Tetapi pertanyaannya, apakah penerbitan ORI ada hubungannya dengan upaya menggairahkan investasi riil? Sulit untuk mengatakan Iya.

ORI adalah bentuk investasi portfolio, tidak merepresentasikan investasi riil. Suku bunga tinggi adalah surga bagi investor portfolio, tapi neraka bagi investor sektor riil. Jika digeneralisir, kesimpulan bisa tidak konsisten dengan argumennya.

06 July 2006

Investasi membaik?

BKPM kemarin melaporkan, realisasi investasi Indonesia semester pertama 2006 masih tumbuh tinggi 12,12 persen. Laporan tersebut dikutip oleh sejumlah media dan memberi kesan seakan-akan Indonesia telah semakin baik di mata investor. Benarkah?

Mari kita balik ke belakang. Sekitar tiga bulan yang lalu, BKPM melaporkan data sejenis dengan periode yang lebih pendek yaitu realisasi investasi pada kuartal pertama 2006 (Januari–Maret). Dalam laporan tersebut dikatakan bahwa realisasi investasi tumbuh tinggi sekitar 41,39 persen. Lebih detilnya di sini.

Poinnya, pertumbuhan investasi semester pertama 2006 jauh lebih rendah dari pertumbuhan kuartal pertama 2006. Ini berarti, selama tiga bulan terakhir (April-Juni), pertumbuhan investasi justru tumbuh negatif sekitar 26 persen. Sebuah angka yang sebenarnya sangat mengkhawatirkan.


Satu hal lagi. Laporan BKPM yang menyatakan investasi kuartal pertama meningkat 41.4 persen ternyata cenderung bias ke atas (lebih tinggi dari sebenarnya). Data resmi BPS (laporan GDP) menunjukkan bahwa 'investasi bisnis' kuartal pertama 2006 justru anjlok 8,2 persen.

Dengan data tersebut, tampaknya sulit untuk menyatakan kinerja investasi di Indonesia semakin baik.